Berkaca

by muhammadelsena

Akhir-akhir ini saya merasa bahwa ada yang salah dengan cara hidup saya. Dan momen liburan dirumah membuat saya berani menyatakan sesuatu; KEHIDUPAN KULIAH SAYA BERANTAKAN! Tapi bukan karena saya terancam DO.

Saya pernah membaca sebuah kata bijak berbahasa inggris yang kira-kira berbunyi seperti ini; “Tanda bahwa kamu telah menjalani hari-hari terbaikmu adalah saat kamu bangun pagi dengan perasaan excited.” Dan saya sama sekali tidak merasakan itu! Ini bukan karena masalah saya malas bangun pagi atau kebiasaan saya yang susah dibangunkan, sama sekali beda kasus!

Saya pernah merasakan perasaan excited itu sebelumnya. Saat itu akhir kelas 10, masa ujian akhir kenaikan kelas. Saya mendapatkan suatu momentum (nanti cerita yang ini) yang membuat saya harus belajar untuk membuktikan saya bisa mendapatkan nilai kimia yang bagus. Singkat cerita akhirnya saya mencoba belajar dan saya berhasil mendapatkan nilai kimia yang bagus. Saat itu pertama kali saya merasakan manisnya mendapat nilai bagus atas usaha sendiri. Manisnya hal ini membuat saya menjadi enjoy -yang sebelumnya ngantuk- belajar KIMIA.

Di awal kelas 11 juga ada momentum penting. Di sekolah ada sebuah pengumuman lomba kimia yang diadakan sebuah universitas (yang saya lupa namanya). Karena banyak teman saya yang daftar akhirnya saya ikutan juga. Dalam pikiran saya lumayan juga bisa jalan-jalan ke kota lain. Sebelum pelaksanaan saya sempatkan untuk belajar ditengah kesibukan bermain meskipun kenyataanya saya buta sama sekali dengan lomba-lomba seperti ini. Hari pelaksanaan pun tiba. Dengan hati berdebar-debar saya buka lembar soal. Saya membaca soal pertama, soal kedua, lalu soal ketiga, dan . . . kampret, soal-soalnya susah banget! Belum pernah saya bertemu soal seperti ini, yang bahkan ada didalamnya ada beberapa istilah yang baru pertama kali saya dengar. Singkat cerita saya mengerjakan soal-soal yang bisa saya kerjakan saja, itupun menurut saya tidak banyak. Akhirnya waktu pengerjaan selesai. Dengan perasaan lempeng dan cuek saya meninggalkan ruangan. Banyak peserta cewek yang saya lihat curcol dengan teman-temannya tentang sulitnya soal-soal tadi sementara sebagian besar peserta cowok cuma diam saling memandang kemudian tertawa karena menyadari betapa bodohnya kami. Setelah menunggu lama sembari berjalan-jalan di Jember akhirnya hasil diumumkan. Dan secara mengejutkan saya termasuk salah satu dari sedikit yang lolos ke babak selanjutnya! APA!? Saya terkejut, teman-teman saya juga saya yakin terkejut, bahkan guru-guru kami, saya tau dari muka mereka kalau mereka juga tidak menduga saya lolos. Ucapan selamat akhirnya berdatangan dan perasaan sumringah dalam diri saya muncul. Disitu saya merasakan kembali manisnya belajar kimia. Meskipun pada akhirnya saya tidak berhasil menjadi juara di babak selanjutnya.

Di pertengahan kelas 11, ada pengumuman akan dibentuknya tim untuk persiapan Olimpiade Sains Nasional di sekolah saya. Saya tertarik untuk ikut tim persiapan bidang kimia dan entah untuk suatu alasan yang tidak jelas saya justru masuk tim persiapan fisika. Fisika? Padahal mapel ini adalah salah satu mimpi buruk saya saat itu. Meskipun saya sedikit ragu untuk ikut bimbingan, tapi masih ada sedikit motivasi yang tersisa; kali aja ikut bimbingan bisa meningkatkan pemahaman fisika saya dikelas. Singkat cerita akhirnya kegiatan bimbingan dimulai (artinya pelajaran tambahan untuk saya dihari libur). Dan kesan saya diawal masa bimbingan adalah; saya g ngerti sama sekali! Pembahasan di bimbingan jauh lebih sulit dan rumit dari yang ada dikelas. Diperparah dengan fakta bahwa pemahaman fisika dikelas saja buruk! Namun karena pernah merasakan manisnya belajar kimia dan haus akan hal itu, saya jadi tidak patah semangat. Disela-sela waktu senggang dikelas saya mulai mencoba membuka buku fisika, suatu momen langka! Kata demi kata saya baca, susah untuk saya pahami pada awalnya, tiga kali saya baca ulang, dan lama-lama konsep-konsep FISIKA (saat itu belajar mekanika Newton) menjadi masuk akal, EUREKA!!! Lalu saya coba kerjakan soal-soal fisika, dan saya ternyata bisa! Kembali saya merasakan manisnya belajar. Sampai pada akhirnya saya mulai mencoba mengerjakan soal-soal yang lebih rumit. Saya g bisa. Saya paham dengan konsepnya tapi tetap saja soal-soal yang rumit itu tidak bisa saya selesaikan. Dengan perasaan bingung, duduk merenung diatas motor sembari menunggu antrian keluar parkir, ditengah kebisingan suara knalpot saya menyadari apa yang salah, saya lemah di MATEMATIKA!!! Mapel ini adalah salah satu dari mapel dengan nilai yang paling buruk. Setelah itu saya mulai mencoba membuka buku matematika dan, hey . . . matematika ternyata tidak sulit! Layaknya bermain game, saat kau paham aturannya ditambah kreatifitas berfikir semuanya menjadi mudah. Dari situ saya menjadi sangat tertarik terhadap matematika, fisika, dan tentu saja kimia.

Ketertarikan saya terhadap matematika, fisika, dan kimia menjadi candu. Setiap hari diwaktu senggang saya membuka buku, mencoba memahami konsep-konsep baru, dan mengerjakan soal-soal yang lebih sulit. Dari situ saya menjadi paham adanya keterkaitan antara matematika, fisika, dan kimia. Karena itu saya menjadi suka kepada hal-hal yang berbau sains dan teknologi. Cerita-cerita sejarah tentang para peneliti dan inventor serta artikel-artikel penemuan ilmiah terbaru selalu mencuri perhatian saya. Saya selalu bangun pagi dengan perasan excited ke sekolah dengan harapan belajar hal-hal baru. Hingga pada suatu titik diakhir kelas 11, didalam lamunan saya bergumam; ternyata dunia sungguh menakjubkan! Setiap hal didunia selalu teratur mengikuti hukum-hukum alam tertentu yang saya pahami melalui matematika, fisika, dan kimia. Dari daun yang jatuh, gunung meletus, roda berputar, dan korek api yang terbakar, semua ini menakjubkan! Dunia ini berjalan dengan sangat rumit namun selalu ada harmoni didalamnya, dunia ini sempurna tanpa cacat! Hingga saya sampai pada kesimpulan; ternyata Tuhan benar-benar ada!

Hingga akhirnya masuk kelas 12. Saya merasa tekanan mulai meningkat di sekolah karena kami harus menghadapi UN. Namun tidak halnya dengan diri saya. Saya yang sedang dilanda kecanduan mafiki mencoba mengerjakan soal-soal UN tahun-tahun sebelumnya, dan saya sadari UN ternyata bukanlah masalah. Yang menjadi pikiran saya adalah bagaimana saya bisa lolos ke universitas karena ternyata soal seleksi universitas (SNMPTN-Tulis) jauh lebih sulit dari soal UN (Disitu saya tau perbedaan soal evaluasi dan soal seleksi). Saat itu saya menargetkan untuk masuk ITB karena ketertarikan saya terhadap sains dan teknologi dan katanya ITB adalah tempat terbaik di Indonesia untuk itu (akhirnya saya mendaftar di SBM dan SAPPK ITB dengan harapan belajar mengenai sains dan teknologi yang berkolaborasi dengan ilmu sosial). Dengan waktu menuju SNMPTN-Tulis yang sempit saya sadari saya harus mulai berpacu. Masuk ITB bukanlah hal mudah. Saya bangun jauh lebih pagi (sekitar jam 3 pagi) untuk belajar sebelum berangkat sekolah. Saat waktu senggang dikelas, saya mencoba belajar sendiri. Malam hari saya kembali belajar dirumah hingga pukul 8. Saya juga mendisiplinkan diri untuk tidak tidur lebih dari jam 9 malam, makan makanan berprotein tinggi, dan banyak minum air putih. Saya menjadi rajin sholat malam dan puasa sunnah senin-kamis. Sholat wajib tepat waktu, banyak-banyak membaca Al-qur’an, dan yang paling penting, meminta pada Tuhan sebagai pemiliki dunia, termasuk ITB didalamnya. Saya larut dalam cita-cita dan harapan. Mungkin itu romantisme terindah yang pernah saya alami dalam hidup. Dan Tuhan pun mengizinkan saya masuk ITB.

Dan disinilah saya sekarang dengan hidup yang berantakan. Tidak lagi bangun pagi dengan perasaan excited. Tidak lagi percaya bahwa dunia adalah tempat yang indah. Dan yang terburuk adalah tidak lagi memiliki keyakinan yang kuat bahwa Tuhan itu ada. Mungkin saya tidak terbiasa dan tidak nyaman dengan kehidupan kampus. Atau mungkin kehidupan dewasa menyediakan banyak hal menarik sehingga justru saya banyak melewatkan hal-hal penting? Atau mungkin karena saya tidak menemukan ilmu sains dan teknologi yang saya cari di kampus ini? Atau mungkin karena semuanya! Yang saya tau kehidupan saya sekarang full of shit. Yang saya tau saya sudah mengacaukan semuanya.

Saat ini orang-orang bertanya mengapa saya ikut PDW W*nadri padahal harus mengorbankan waktu kuliah dan hal-hal lain didalam kampus. Jawabannya adalah karena saya sedang bingung dan saya butuh perubahan radikal! Jika saya terus menerus hidup seperti ini saya yakin saya justru akan menyesal dikemudian hari. Dan saya tidak mau mati dalam kesia-siaan. Ini bukan karena organisasi. Ini juga bukan karena keahlian pendaki gunung. Ini karena PDW W*nadri setidaknya menjanjikan sentakan besar dalam hidup saya. Ibaratnya permainan catur, untuk membuka deadlock terkadang perlu mengorbankan bidak dengan harapan dapat membuka jalan menuju raja, meskipun penuh resiko. Mungkin orang akan bilang pilihan saya adalah pilihan bodoh. Dan mungkin beberapa orang merasa dirugikan dengan pilihan saya ini. Tapi saya tidak perlu berharap mereka akan mengerti. Jika mereka peduli terhadap saya, justru pilihan saya ini suatu saat dapat membuat mereka lega suatu saat. Semoga.

Kesimpulan; Saya sedang bingung dan saya butuh sentakan besar dan momentum baru dalam hidup! Saat ini! Yeaaah!