7 alasan mengapa pesimis pemilu 2014 dapat menjadikan Indonesia lebih baik.

by muhammadelsena

Mayoritas masyarakat Indonesia sibuk memperdebatkan calon mereka yang terbaik. Namun mereka lupa bahwa pesta demokrasi kita berjalan tidak sehat. Saya semakin pesimis dengan hasil Pemilu 2014 mampu membawa Indonesia lebih baik, buktinya:

  1. Hujan “penghargaan dan pujian” dari tokoh, media, dan pemerintah asing. Masyarakat Indonesia sangat gemar sekali dengan hal ini. Contoh; saat Jokowi di puji Forbes atau saat Prabowo di unggulkan The Wall Street Journal jadi bahan konsumsi populer masyarakat Indonesia. Terbukti mayoritas masyarakat Indonesia mengidap INFERIORITY COMPLEX (Mendikbud mengakui hal ini). Semua opini yang berasal dari “negara maju” dan “ditulis bule” dianggap paling oke oleh masyarakat kita. Pemilihan pemimpin negeri sendiri kok ya opini dan intervensi asing masih saja ditelan. Padahal yang pemerintah dan media asing lakukan pasti untuk kepentingan bangsa (atau korporasi) masing-masing. Kata orang-orang bule “There ain’t no such thing as a free lunch”. Penghargan dan pujian mereka seharusnya menjadi kewaspadaan untuk masyarakat kita.
  2. Agama di eksploitasi untuk menggerakkan pemilih. Saya jujur bingung dengan apa yang dipikirkan oleh ulama dan kyiai yang terang-terang mendukung satu calon. Setelah menyuntikkan candu agama kepada umat yang sedang kebingungan, kyai atau ulama menggunakan candu tersebut untuk menggiring umatnya memilih calon tertentu. Kapan negara ini bisa tentram dan damai kalau isu agama masih saja di jadikan alat dalam politik yang menghormati keberagaman?
  3. Media-media mainstream lokal yang sudah jelas tidak netral. Media adalah pilar demokrasi. Tapi nyatanya perilaku media masa lokal bobrok. Sebut saja TVOne dan MetroTV, atau Tempo dan MNC. Terlihat jelas bahwa informasi dari mereka sudah tidak layak konsumsi. Kalau pilarnya saja bobrok gimana bangsa ini bisa berdiri?
  4. Kampanya-kampanye dan perdebatan yang tidak mencerdaskan (malah menyesatkan) pemilih. Masih saja kampanye hitam jadi bahan perbincangan utama bagi pemilih. Ini jadi PR besar buat pendidikan di Indonesia yang ternyata gagal mengajarkan logika pada mayoritas siswa dan mahasiswanya.
  5. Popularitas calon di medsos sangat berpengaruh terhadap preferensi pemilih. Padahal like dan followers bisa dengan mudah bertambah dengan tenknik yang tepat. Komentar dan tweet dukungan bisa di dapat dengan membayar sepasukan penggiat media sosial. Baik Jokowi dan Prabowo punya cukup modal untuk mendapatkan “dukungan” di media sosial. Sayangnya menurut riset dukungan di media sosial sangat berpengaruh pada pemilih di Indonesia.
  6. Elit-elitnya sulit atau tidak bisa dipercaya. Saya tidak perlu bercerita banyak tentang ini.
  7. Prinsip Vox Populi, Vox Dei (suara mayoritas adalah suara tuhan) masih menjadi prinsip bernegara.