Indra Sjafri

by muhammadelsena

Masak negara dengan penduduk lebih dari 230 juta anak bangsa membentuk 11 orang untuk tim kuat saja tidak bisa?

Sebuah penyataan yang membuat saya tersadar dari cara pandang saya terhadap masyarakat selama ini. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Indra Sjahri, pelatih timnas U19 yang berhasil membawa Garuda Jaya menjuarai AFF 2013. Prestasinya membawa kebanggaan tak hanya pada pecinta bola Indonesia, namun juga kebanggan bahkan untuk saya yang biasanya tidak terlalu peduli dengan dunia sepak bola. Dan pernyataan diatas seakan membuka sudut pandang baru bagi saya. Bagaimana tidak, 230 juta jiwa adalah jumlah yang besar, dan mencari 11 orang bertalenta dari 230 juta jiwa adalah hal yang sangat mungkin, bahkan dengan akal sehat sederhana pun 11 orang itu sudah pasti ada. Lalu saya berfikir lebih jauh, apakah tidak mungkin diantara 230 juta jiwa ini ada seorang Mike Tyson baru? Apakah tidak mungkin ada pemuda seinovatif Michael Jackson, Bill Gates, atau Steve Jobs? Dan apakah tidak mungkin terlahir pemimpin-pemimpin besar sekelas George Washington, Vladimir Lenin, atau J.J Rousseau? Atau bahkan seorang Soekarno dan Hatta yang baru?

Indra Sjafri berkata, “Ada empat hal, skill, kemampuan taktikal, kemampuan fisik, dan mental. Boleh skill kita dibawah orang luar, tapi tiga yang lain kita tidak boleh kalah!” Dari keempat hal diatas yang menurut saya paling penting adalah mental. Selama lebih dari tiga abad kita di jajah, selama itu pula mental inferiority complex mulai tertanam di pikiran bawah sadar kita. Sederhananya, inferiority complex adalah perasaan kurang percaya diri masyarakat Indonesia terhadap bangsa lain yang mereka rasa lebih maju. Contoh, saat diketahui Barrack Obama pernah tinggal di Indonesia, masyarakat Indonesia langsung heboh. Hampir semua orang media menggembar-gemborkan dan masyarakat seakan bangga dengan hal tersebut, bahkan kita membuatkan sebuh patung (monumen) bagi si Barrack Obama. Ini adalah contoh nyata penyakit inferiority complex tertanam di Indonesia. Selain kasus Barrack Obama, ada pula kasus Indomie dan kasus film Fast Furious V. Sebuah hal yang membuat kita “seakan” mendapat pengakuan dari bangsa lain membuat kita bangga berlebihan, bahkan bangga yang tidak perlu. Contoh yang paling jelas adalah saat kita menganggap hal-hal yang berbau luar negeri adalah lebih lebih baik, mulai dari fashion, kuliner, film, musik, tempat wisata, tempat belanja, bahkan teknologi. Namun metode Indra Sjafri membawa Garuda Jaya menjadi juara memberikan suatu pencerahan baru bagi kita. Dia pergi blusukan berkeliling Indonesia untuk mencari talenta-talenta daerah yang sempat terlupakan, dia tidak mendukung penggunaan pemain naturalisasi, dan dia percaya diantara 230 juta orang Indnesi, aada 11 orang yang menjadi manifestasi bahwa bangsa ini mampu berdikari di dunia sepak bola!.

Sebuah prestasi dan inpirasi selalu dibuahkan oleh aksi yang inovatif sehingga terlihat berbeda dan membawa perubahan di lingkungan. Lalu apa yang membedakan kepelatihan Indra Sjafri dengan pelatih pada umumnya? Dalam wawancara dengan media masa, ketua PSSI Djohar Arifin memuji Indra Sjafri “Saya melihat Indra Sjafri punya metode yang bagus dalam melatih para pemain. Ada penggabungan sport science dan sport medicine dalam latihan yang dia gelar. Keduanya dipadukan untuk mendapatkan kesuksesan di Piala AFF dan kualifikasi Piala AFC U-19 kemarin. Dia adalah tipikal pelatih modern,“. Resep ini lah yang mejadikan kepelatihan Indra Sjafri berbeda. Ia menggunakan sains dan teknologi untuk berinovasi dan memberi perbedaan dalam pelatihan U19. Hal ini yang menurut saya masih belum membudaya di Indonesia. Pernyataan ketua PSSI ini mengindikasikan bahwa perpaduan sains dan teknologi dalam sepakbola jarang atau bahkan tak pernah dilakukan. Bahkan dalam diskusi-diskusi yang dilakukan oleh mahasiswa ITB masih banyak yang menggunakan asumsi dan common sense tanpa ada dasar pembuktian yang ilmiah. Namun dari prestasi Indra Sjafri kita melihat bukti nyata, bagaimana sains dan teknologi dapat membuat perbedaan. Dan teknologi tak hanya membawa perbedaan dalam hal teknis, namun sains dan teknologi mampu juga membawa inspirasi bagi seluruh bangsa. Merdeka!

NB: Sudah lama saya mau menuliskan ini dan malam ini saya baru bisa mengalahkan kemageran . . . :3