Rindu

by muhammadelsena

Dear Readers,
Saya ingin pulang.
Hati saya berkata saya harus pulang ke rumah.
Saya ingin bertemu Ayah dan Mama lalu mencium kedua tangan mereka.
Mendapat wejangan berharga dan kembali mengisi energi hidup.
Lalu saya ingin bersama adik-adik, mengajak mereka berkeliling dan bermain.
Sehingga di malam hari saya melihat mereka tidur dengan wajahnya yang polos.
Oh iya dan yang paling saya rindukan, makan bersama Ayah, Mama, dan adik-adik dalam satu meja. Seafood segar yang gurih, sambal pedas yang mantap, dan lalap yang seakan menghapus dahaga. Semua terangkum dalam suasana keluarga yang saya merasa damai didalamnya.

Oh iya, saya ingin merasakan damainya tidur di rumah.
Tidur dengan pulas.
Dunia seakan berjalan lambat dan indah, tanpa ada tekanan untuk berpacu.

Dan saya ingin merasakan kembali atmosfir nostalgic di kota saya tumbuh itu.
Lingkungan saya bermain dan beranjak dewasa. Mengejar layang-layang,menerjang sawah, dan mengarungi sungai-sungai. Bertemu sahabat dan berbuat kenakalan.
Disana pula saya bisa merasakan jatuh cinta pada gadis, dan ya memang benar jatuh cinta.

Namun, bagi saya kerinduan ini adalah proses belajar.
Proses belajar untuk menjadi lebih dewasa dan mandiri.
Proses untuk menjadikan saya lebih kuat.
Dan terutama kerinduan ini adalah ujian bagi saya dalam menjaga idealisme dan komitmen.
Meskipun dada ini dibuatnya sesak, namun proses belajar memang tidak pernah mudah.

Layaknya besi, hati saya sedang ditempa, dibakar, dan digrinda, sampai akhirnya saya menjadi pedang tajam yang berkilau. Tak hanya kuat dan berbahaya, namun juga indah dan berkarisma.