Sekarang Saya Tau

by muhammadelsena

Dahulu saya begitu bersemangat untuk tampil di depan. Namun ada suatu momen dimana jiwa saya menjadi kerdil, mungkin hingga saat ini. Dan saya rasa itu terjadi karena pendewasaan. Pendewasaan yang menimbulkan keraguan (ternyata pendewasaan tak hanya menimbulkan keberanian), hingga akhirnya saya tau apa yang membuat saya menjadi ragu untuk tampil menjadi pemimpin. Hingga saat ini pun saya ragu.

Ternyata saya ragu bukan karena merasa kurang dengan kemampuan memimpin saya. Saya sangat yakin dengan kemampuan memimpin saya, karena semangat dan kemampuan belajar saya yang tinggi. Didukung oleh ego dan kepercayaan diri saya yang melangit. Ternyata saya ragu bukan karena kekhawatiran lemahnya kekuatan politik saya dalam struktur sosial. Terutama karena saya terbukti jago dalam melakukan pencintraan dan bermain dalam strategi politik praktis.

Dan saat ini saya tau apa yang membuat saya ragu. Saya ragu karena saya tidak dapat disebut sebagai seorang pemimpin sejati karena saya tidak memiliki syaratnya. Syarat-syarat yang saya sadari hingga saat ini, dalam momen saya menulis ini pun, saya belum memilikinya (mungkin bisa bertambah di kemudian hari) :

1. Niat utama menjadi pemimpin adalah memberi manfaat, terutama bagi orang yang dipimpinnya
Terkadang semangat saya untuk belajar, atau bisa saya bilang ego untuk mengambil jatah pembelajaran, membuat saya lupa untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Hal ini fatal jika dimiliki seorang pemimpin. Dan mungkin ego ini sudah sangat parah hingga menjadikan saya sangat oportunis.

2. Seorang pemimpin harus mencintai yang dipimpinnya. Karena syarat dasar dalam ikhlas memberi adalah dengan mencintai yang diberi terlebih dahulu. Tanpa cinta, tak akan ada namanya keikhlasan. Tanpa ikhlas tak aka nada namanya semangat juang. Maka pemimpin yang yang tidak mencintai rakyatnya akan jatuh ditengah masa kepemimpinannya. Saya mencintai orang yang saya pimpin? Bahkan untuk mencintai orang-orang yang hidup bersama saya pun saya belum bisa. Oportunis kronis.

3. Seorang pemimpin adalah contoh bagi yang dipimpinnya, dalam hal prestasi maupun kehidupan sehari-hari. Ah, bahkan untuk masalah akademik dan tugas-tugas sepele pun saya sering lalai. Tak lagi perlu dibahas keburukan saya yang satu ini. Belum lagi saya bercerita kewajiban saya sebagai muslim.

4. Seorang pemimpin harus berani mengambil sikap, siap berbeda pendapat, hingga siap untuk dibenci. Saya sering bersikap moderat, bukan karena ingin mencapai solusi bersama, namun lebih kepada saya takut berhadapan dengan konflik. Contoh salah satu sifat pengecut dan munafik dalam diri saya.

5. Seorang pemimpin menyadari bahwa eksistensi dirinya adalah karena orang-orang yang dipimpinnya. Tanpa orang-orang yang dipimpin tak akan ada yang disebut pemimpin. Hal ini bukan sebatas retorika saja, tapi lebih pada menyadari bahwa orang-orang yang dipimpinnya adalah bagian hidupnya, bahkan jiwanya. Sedangkan saya terlalu sombong untuk hidup dengan orang lain.

Saya tau ternyata masih banyak yang saya harus rubah dalam hidup saya. Jika bercermin dari syarat-syarat diatas saya bahkan belum pantas disebut sebagai kandidat pemimpin, bahkan saya rasa belum pantas untuk disebut sebagai manusia seutuhnya. Semoga Allah SWT mengabulkan doa saya sebagai manusia dalam Al-Fatihaah (itu pun jika saya masih bisa menjaga sholat saya, atau minimal tak lupa berdoa) … Amiin. Tapi memang hanya Dia yang bisa merubah saya, dan saya sangat berharap Dia merubah saya, dan saya sangat yakin karena Dia Maha Lembut dan Maha Penyayang maka Dia akan merubah saya, InsyaAllah.