Sarjana Modern

by muhammadelsena

Sarjana berasal dari kosakata sanskrit “Sajjana” yang berarti manusia bijaksana. Bahkan dalam beberapa literatur, sarjana berarti orang yang arif atau berwatak baik. Sebuah gelar yang memiliki makna nilai kehormatan yang sangat tinggi. Jika saya renungkan lebih dalam, gelar sarjana adalah gelar pengakuan dan pengharapan masyarakat pada seseorang karena kebijaksanaan dan pengetahuannya. Namun dewasa ini, sarjana mengalami penyempitan nilai.

Dalam KBBI, sarjana berarti orang pintar dalam hal ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan berarti ilmu yang berasal dari pengalaman empiris. Empiris berarti bersifat terukur dan logis. Jika kita bandingkan, istilah sarjana telah kehilangan makna nilai kebijaksanana dan kearifan. Di titik ini, gelar sarjana lebih bersifat pada pencapaian akademis. Namun dalam dunia nyata, nilai gelar sarjana lebih tergerus dan terperosok kedalam kefanaan.

Saat ini, banyak orang mengartikan sarjana sebagai sebuah gelar yang disematkan pada seseorang yang menamatkan suatu pendidikan tinggi. Di titik ini, gelar sarjana tak hanya kehilangan makna kebijaksanaan dan kearifan, bahkan untuk makna pintar dalam ilmu pengetahuan pun telah hilang. Negeri ini telah melahirkan berjuta sarjana. Namun bagi saya, banyak sarjana negeri ini berarti manusia yang telah menjalani pelatihan babu di tingkat tertinggi. Tidak berlebihan jika saya menyatakan banyak sarjana negeri ini adalah seorang babu. Yang saya maksut bukan dari segi pekerjaan yang dilakukan, namun dari segi mental dan karakter. Gelar sarjana seakan-akan hanya bermanfaat untuk menjadi syarat masuk dunia kerja. Bahkan dalam pemaknaan ekstrim, gelar sarjana adalah alat yang digunakan untuk mencari bahkan mengemis sejumlah materi. Tak ada lagi kebijaksanaan dan kearifan, bahkan untuk kemandirian hidup pun tidak punya. Bisa dimaklumi virus materialistis telah menjangkit ibu pertiwi.

Jika sarjana pada mulanya merupakan gelar yang disematkan akan kebijaksanaan dan kearifan, maka seharusnya seorang sarjana merupakan gelar yang diberikan akan diri seseorang yang menjadi solusi bagi masyarakat. Namun benarkah sarjana di zaman modern ini menjadi solusi bagi masyarakat? Alih-alih menjadi solusi, gelar sarjana digunakan untuk mensikut orang-orang yang tidak memiliki kesempatan belajar di perguruan tinggi.

Di zaman modern ini, jika anda mengejar gelar sarjana untuk mendapatkan pekerjaan, anda tidak perlu repot-repot bersekolah di perguruan tinggi terbaik. Banyak perguruan tinggi abal-abal yang menawarkan gelar sarjana instan. Bahkan gelar sarjana telah banyak dijual layaknya gorengan. Saya memohon maaf jika pembaca merasa tersinggung akan tulisan ini. Saat menulis ini, saya tengah menjalani pendidikan untuk menjadi seorang sarjana. Semoga dan do’akan saya menjadi seorang sarjana yang tak hanya memiliki kepintaran akademis, namun juga memiliki kebijaksanaan dan kearifan.