Urgensi memiliki Visi dan Syarat Visi yang Ideal

by muhammadelsena

Setiap manusia memiliki pilihan dalam hidupnya. Manusia berhak menginginkan segala hal. Namun untuk mendapatkan apa yang ia mau, manusia perlu melalui sebuah proses. Proses tersebut bisa jadi hanya berlangsung dalam beberapa detik saja atau bahkan sebuah proses yang dia jalani seumur hidup. Seringkali untuk proses jangka panjang, perhatian kita yang sebelumnya fokus mengejar satu hal akhirnya teralihkan. Hidup yang dinamis seringkali menggoda kita untuk melakukan hal yang tidak berkontribusi dalam proses pencapaian keinginan. Maka dari itu, sebagai pedoman, manusia perlu memiliki pernyataan visi. Salah satu contoh penggunaan visi adalah saat kita dihadapakan pada dua atau lebih pilihan jurusan kuliah yang sama-sama menarik. Tentu saja mudah bagi kita untuk memilih jika kita memiliki visi. Pilih saja jurusan yang bisa berkontribusi pada proses pewujudan visi kita.

Sebuah pernyataan visi memiliki beberapa syarat untuk dikatakan baik. Tanpa memenuhi semua syarat dibawah ini, sebuah visi bisa saja menjadi egois maupun tidak mungkin dicapai. Untuk memulai membuat visi, kita dapat merenungkan apa yang sebenarnya ingin kita capai dalam hidup. Apa yang kita cintai dan apa yang pantas untuk kita perjuangkan juga menjadi pertimbangan dalam membuat visi. Setelah itu, kita akan mendapatkan visi mentah atau inti dari visi. Visi menta yang telah kita buat kemudian harus disesuaikan dengan syarat-syarat visi yang baik. Berikut syarat-syarat sebuah visi dikatakan baik :

Berdasar pada ke-Tuhanan.

Manusia hidup di dunia ini karena Tuhan. Suatu saat, kita, orang tua kita, dan teman-teman kita pun akan kembali kepada Tuhan. Segala hal kenikmatan dan ujian yang kita lalui saat ini juga karena Tuhan. Apakah kita mendapat balasan yang baik saat hidup setelah mati nanti tergantung apakah selama hidup kita saat ini berorientasi perintah Tuhan. Perintah Tuhan adalah petunjuk terbaik untuk hidup. Petunjuk Tuhan adalah petunjuk yang sempurna, tanpa cacat. Maka dari itu, visi kita, yang mencerminkan tujuan kita hidup di dunia, mutlak harus berdasarkan atas perintah Tuhan. Dapat secara eksplisit maupun implisit. Secara otomatis, visi yang berdasarkan pada perintah Tuhan adalah baik untuk diri sendiri, manusia disekitar kita, masyarakat dunia, dan alam ini. Contoh visi yang berdasarkan pada ke-Tuhanan adalah “Membangun masyarakat kota Bandung yang damai dan cinta kebersihan”. Visi ini secara implisit mengandung nilai-nilai perintah Tuhan untuk berbuat baik.

 

Memiliki kebebasan substansial.

Memiliki kebebasan substansial artinya dapat dipertanggungjawabkan. Sebuah visi tidak boleh asal. Dalam membuat visi, kita harus memperhatikan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Contoh visi yang tidak memiliki kebebasan substansial adalah “Menjadi manusia yang dapat menjadi Tuhan”. Tentu saja visi ini tidak mungkin dicapai dan dapat menyinggung masyarakat lain. Contoh visi lain yang tidak memiliki kebebasan substansial adalah “Menjadi bandar narkoba yang menguasai tujuh samudra”. Visi ini dapat dicapai, namun bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan. Visi lain yang tidak memiliki kebebasan subsatansial adalah “Menjadi pedagang yang mampu menguras seluruh harta kliennya”. Visi ini juga tidak mengandung nilai-nilai kebaikan. Ada pula visi yang tidak baik seperti berikut “Menjadi orang yang dapat tidur 23 jam sehari”. Visi ini adalah contoh visi yang tidak bertanggung jawab akan dirinya sendiri.

 

Besar dan jelas.

Tuhan memberikan kesempatan bagi kita untuk menjadi apapun yang kita cita-citakan. Tuhan juga memberikan kesempatan untuk mendapatkan apapun yang kita inginkan. Suatu hal yang ingin kita dapatkan dituangkan dalam sebuah visi. Maka dari itu, akan sangat naïf jika visi tidaklah dibuat untuk suatu hal yang besar. Akan sangat disayangkan jika visi hidup kita tidak dibuat untuk mencapai tujuan yang akan membuat dunia terkesan. Seluruh tokoh yang telah merubah dunia juga mengawali perjuangannya dengan ambisi untuk merubah hal-hal besar. Seperti Bapak Sukarno yang ingin membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan meskipun pada saat itu terlihat tidak mungkin. Ataupun seperti Steve Jobs yang memimpikan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa dalam hidupnya. Contoh visi yang besar adalah “Membangun green city di setiap negara di bumi ini” atau “Menjadikan Indonesia sebagai negara zero waste”. Maka dari itu, sebuah visi haruslah besar dan tidak boleh membatasi diri. Cita-cita dalam visi tersebut yang nantinya akan mengembangkan diri kita.

Sebuah visi juga harus jelas. Maksutnya jelas adalah tidak akan ada lagi pertanyaan akan tujuan kita. Contoh, Martono memiliki visi untuk menjadi “seorang yang sukses”. Visi Martono tentu saja bukan suatu visi yang baik karena tidak jelas seperti apa kesuksesan yang dia maksut. Kemudian Martono merubah visinya menjadi “seorang matematikawan yang sukses”. Visi ini juga belum baik. Matematikawan yang sukses yang seperti apa belum Martono nyatakan dalam visinya. Kemudian Martono merubah visinya lagi menjadi “seorang matematikawan yang mampu membuat mahasiswa ITB mencintai matematika”. Visi ini sudah relatif jelas dan tidak memicu pertanyaan lain karena kesuksesan yang dia inginkan telah dinyatakan.

 

Melibatkan pihak lain.

Sebuah visi tentunya adalah suatu target yang besar. Target tersebut tidak main-main dan harus didapatkan melalui proses yang panjang. Untuk melalui proses yang panjang itu, kita pasti tidak akan bisa mewujudkannnya sendiri, karena kita sendiri pasti memiliki batasan. Untuk menutupi-menutupi keterbatasan itu, kita perlu peran serta dari orang lain. Selain itu, ketercapaian visi kita nantinya daoat dinikmati orang lain. Meskipun dalam proses mewujudkan, sebuah visi yang baik juga seharusnya memberikan manfaat bagi pihak lain. Maka dari itu, pernyataan visi harus mengandung pemahaman bahwa kita perlu bantuan orang lain untuk mewujudkannya. Visi yang secara implisit tidak melibatkan pihak lain dikatakan visi yang egois.

Sebuah visi akan menjadi sebuah visi yang semu jika tidak ada komitmen di dalamnya. Visi yang semu adalah sebuah visi yang dibuat tanpa ada niatan untuk berusaha mewujudkannya. Maka dari itu, visi haruslah berasal dari hati agar kita senantiasa berkomitmen mewujudkannya dan tertanam di alam bawah sadar kita.