FPI, Lady Gaga, dan Indonesia

by muhammadelsena

Sebenarnya suatu hal yang sangat tidak penting untuk menulis sesuatu tentang konser Lady Gaga. Saya tidak bermaksut untuk ikut meramaikan keributan yang sudah ada. Saya cuma merasa geli dengan tingkah laku pihak-pihak yang terlibat dalam perdebatan konser Gaga.

Yang pertama adalah FPI. Saya setuju dengan mereka tentang menolak pornografi. Ya, Lady Gaga saat konser biasanya menggunakan busana yang seronok. Ditambah gerakan dan goyangannya yang hot. Bagi saya itu sudah jelas akan berkontribusi merusak moral publik. Tapi yang saya sesali disini, untuk output yang FPI harapkan atas usahanya menolak konser tante Gaga, pengorbanannya atas nama FPI tidak sesuai. Jika mereka memang berniat memerangi pornografi dan menyembuhkan moral publik, kenapa harus dengan aksi-aksi yang membuat mereka terlihat buruk di mata publik. Faktanya, publik memang kurang paham dengan korelasi antara degradasi moral dan konser tante Gaga. Apakah FPI tidak mempertimbangkan fakta ini? Seharusnya mereka punya cara lain untuk manfaat yang sama namun tidak mengurangi kepercayaan publik terhadap FPI, tanpa mengurangi dan menjual murah martabat Islam sendiri. Ya mau bagaimana lagi, publik akan semakin membenci sosok FPI jika kejaadiannya seperti ini.

Yang kedua adalah pihak Big Daddy dan tante Gaga. Sudah tau kalo tante Gaga dicekal di banyak negara berbudaya ketimuran, eh masih nekat mau ngadain konser di Indonesia. Apa saking segitunya melihat Indonesia sebagai pasar yang potensial (tambang uang)? Atau pihak tante Gaga sendiri yang cari muka dan cari perhatian dunia? Ya sebenarnya saya tidak mau su’udzan sih. Tapi sudah jelas-jelas Indonesia bakal menolak, ya masih saja dilakukan.

Yang ketiga dan yang paling membuat saya jengkel adalah masyarakat Indonesia yang merasa malu dengan Indonesia karena konser tante Gaga ditolak. Kenapa harus malu? Dunia Internasional tidak akan melihat Indonesia sebagai negara yang tidak bersahabat hanya karena penolakan ini. Kecuali pastinya pihak kapitalis barat merasa dirugikan. Justru dengan adanya kasus penolakan seperti ini, karakter Indonesia kembali terlihat. Menurut saya hal ini justru berkontribusi untuk membuat nama Indonesia kembali diperhitungkan. Sehingga nantinya tidak akan ada lagi nama Indonesia yang bisanya cuma ikut-ikutan saja. Tidak akan ada lagi nama Indonesia yang mudah tertular virus kebudayaan barat tanpa saringan. Indonesia perlu sikap dan perlu karakter!