Kenapa Dengan Politik

by muhammadelsena

Banyak teman-teman saya saat ini menghindar dari politik. “Fuck politik”, “persetan dengan politik”, “politik itu busuk”, dan berbagai macam hujatan kepada si politik sering saya baca dan dengar di kalangan muda. Rata-rata mereka membenci politik dengan sebab yang sama, yaitu karena kondisi bangsa ini bobrok gara-gara pemimpin-pemimpinnya busuk. Memang benar bahwa karena berpolitik, orang-orang busuk tersebut mendapatkan kekuasaan. Namun kekeliruan teman-teman muda disini adalah menyalahkan si politik atas keburukan perilaku para pemimpin.

Politik bisa dibilang hanya sebuah alat. Untuk apa alat itu digunakan tergantung siapa yang menggunakan. Kalau yang menggunakan orang baik ya pasti digunakan untuk hal-hal baik. Kalo yang menggunakan orang jahat ya pasti yang timbul adalah bencana. Saya jadi ingat quote Bapak Mario Teguh. Kira-kira begini “Yang pintar dan baik hati tapi tidak mau berpolitik berarti ikhlas di pimpin orang-orang jahat”. Dari quote Pak Mario ini saya dapat simpulkan ada tiga golongan orang yang boleh untuk tidak berpolitik bahkan diharapkan untuk tidak ikut berpolitik sama sekali. Tiga macam orang itu adalah orang yang tidak baik hati, orang yang bodoh, dan orang yang tidak baik hati sekaligus bodoh. Celakalah bangsa ini jika salah satu dari tiga golongan tersebut lihai dalam berpolitik. Sedangkan yang pintar dan baik hati tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak tau sama sekali tentang politik. Kita renungkan sendiri apakah kita termasuk golongan orang yang diharapkan berpolitik atau tidak.

Kewajiban berpolitik bukan berarti kita harus menjadi anggota parpol. Bukan juga berarti harus membentuk LSM politik atau ikut jadi calon presiden. Berpolitik cukup dimulai dengan menelaah informasi-informasi media masa yang berkaitan dengan kondisi bangsa dan kebijakan para pemimpin bangsa. Belum tentu kebijakan sang pemimpin, yang media massa bilang itu baik, benar-benar baik untuk masyarakat. Jangan-jangan ada kepentingan pribadi di balik kebijakan itu. Karena pada dasarnya, media masa bisa saja merupakan alat pembenaran orang-orang jahat yang lihai berpolitik. Dengan menelaah atau mengkaji informasi-informasi tersebut kita jadi tau kondisi bangsa yang sebenarnya sehingga kita mengerti bagaimana seharusnya para pemimpin membawa bangsa ini. Menelaah atau mengkaji bisa dimulai dengan kepo informasi atau mengobrol dengan orang-orang yang sudah lebih dulu memerhatikan politik. Pada akhirnya dengan kita peduli terhadap politik, kita jadi tau apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di Indonesia ini secara efektif. Syukur-syukur kita jadi lihai dalam berpolitik dan menjadi pemimpin yang membawa bangsa ini menuju zaman keemasan. Merdeka!