Realita #1

by muhammadelsena

Kemuliaan suatu profesi tidak dapat dinilai dari berapa jumlah materi yang didapatkan. Namun bangsa ini terbiasa kurang menghargai beberapa jenis profesi. Jika kita selalu meremehkan profesi pembantu, bagaimana jika nantinya mereka tidak mau bekerja lagi? Pasti beberapa dari kita akan sangat kerepotan. Bayangkan jika petani tidak mau lagi pergi ke sawah karena alasan kurangnya apresiasi masyarakat! Bagaimana jika di dunia ini tidak ada lagi guru yang ikhlas membimbing siswanya karena alasan uang?

Dalam pikiran kita tertanam bahwa uang adalah “energi” utama hidup manusia. Mungkin beberapa dari anda menyangkal pernyataan ini. Namun cobalah mengingat apa yang selama ini anda kejar. Dengan alasan membahagiakan keluarga, uanglah yang selama ini kita kejar. Apakah hanya uang yang mampu membuat mereka bahagia? Sudah berapa banyak contoh keluarga yang mendapat kehinaan karena banyaknya uang yang mereka miliki? Namun saya tidak menyatakan bahwa mencari uang adalah sebuah dosa.

Negara ini sudah terlanjur mengadopsi sistem kapitalisme. Mengakibatkan hampir setiap orang di negara ini bekerja berorientasi pada uang. Seringkali “ceperan” di butuhkan untuk menggerakkan seseorang. Mau bagaimana lagi? Kita butuh uang untuk makan di zaman dimana para kapitalis menguasai. Secara tidak langsung, hal ini membuat kebanyakan generasi mud bangsa ini memilih suatu profesi karena pertimbangan besarnya penghasilan. Inilah yang menyebabkan keprofesian Indonesia masih jauh terbelakang dibanding negara lain.

Jika sudah begini, akankah kita harus terus mengikuti arus kapitalisme dan pura-pura tidak tahu? Tidak! Banyak hal yang bisa kita lakukan! Hal mendasar yang bisa kita lakukan adalah mengenali apa itu kapitalisme. Ketahuilah bahwa saat ini Indonesia sedang sekarat! Dengan memahami apa itu kapitalisme, kita dapat mengetahui tipuan dan intrik kaum liberalis/kapitalis sehingga kita mengenali siapa musuh kita dan sebelum nantinya mampu merubah bangsa ini.