Melsenak

Sebuah Sudut Pandang Manusia Biasa

Kontribusi Sederhana: Mencari Fokus Pembangunan di Situbondo

Semangat teman-teman Jong Situbondo dalam membangun daerah menginspirasi banyak orang untuk turut berkontribusi membangun daerahnya. Ditengah semakin berkembangnya primacy kota-kota besar yang membuat daerah-daerah semakin miskin dan tertinggal, gerakan teman-teman untuk membangun daerah seakan seperti oasis ditengah gurun. Disadari atau tidak , sekecil apapun kontribusi teman-teman, itu sudah menjadi batu bata untuk pembangunan ekonomi Indonesia yang lebih makmur dan berkeadilan. Dan disinilah saya dan tulisan saya, semoga bisa menjadi seperti teman-teman Jong Situbondo, peletak salah satu batu bata untuk pembangunan daerah, khususnya Situbondo, dan tentunya Indonesia.

Dalam tulisan ini saya akan mencoba menawarkan sektor-sektor apa saja yang harusnya difokuskan dalam pembangunan di Situbondo. Dengan pembangunan yang berfokus pada sektor-sektor yang bernilai startegis, pembangunan yang opitimal dapat dimungkinkan dengan sumberdaya yang sangat terbatas. Saya mencoba menganalisis sektor-sektor tersebut dengan ilmu yang saya dapat di kampus. Meskipun ilmu saya masih sangat terbatas, tetap saya beranikan diri untuk menulis artikel ini karena terinspirasi oleh gerakan teman-teman Jong Situbondo. Saya selalu percaya bahwa kebermanfaatan suatu ilmu/teknologi tidak diukur dari seberapa rumit/baru ilmu/teknologi tersebut, namun ilmu/teknologi yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat diimplementasikan di masyarakat. Mens et Manus.

SEKTOR UNGGULAN DI SITUBONDO

Agar dapat berkembang, suatu daerah harus melakukan spesialisasi dalam konstelasi perekonomian regional. Spesialisasi tersebut juga harus didukung dengan kapasitas ekspor ke daerah lain. Spesialisasi ini dapat berwujud kegiatan ekonomi internal  yang memiliki keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif di banding daerah lain. Untuk daerah yang sedang berkembang, keunggulan ini biasanya terkategorikan dalam keunggulan komparatif, yaitu keunggulan kuantitas suatu sumberdaya yang dimiliki, seperti contohnya besarnya jumlah sumberdaya alam. Dengan memanfaatkan keunggulan komparatif tersebut, suatu daerah yang termasuk tertinggal pun dapat turut berkembang pesat perekonomiannya di tengah trend industrialisasi yang terpusat di kota-kota besar.

Situbondo dalam konstelasi perekonomian Jawa Timur memiliki posisi strategisnya tersendiri. Beberapa sektor di Situbondo dapat bersaing dengan kabupaten/kota lain meskipun secara umum perekonomian Situbondo termasuk tertinggal. Keunggulan ini sudah disadari oleh masyarakat umum namun belum pernah dibuktikan dalam data dan analisis yang tepat. Jika keunggulan ini dioptimalkan, maka keunggulan ini dapat menjadi mesin pertumbuhan bagi Situbondo. Sektor-sektor unggul ini dapat memberikan banyak multiplier effect positif, mulai dari turut berkembangnya sektor-sektor yang kurang unggul, peningkatan pendapatan per kapita, dan penambahan lapangan kerja. Sektor-sektor unggulan Situbondo yang awalnya hanya unggul secara komparatif, saat dioptimalkan dengan tepat dapat pula berkembang menjadi keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif ini yang nantinya bisa membawa Kabupaten Situbondo ke tingkat interaksi perkonomian Nasional bahkan Internasional.

Untuk mengetahui sektor-sektor apa saja yang unggul di Situbondo maka dapat digunakan analisis LQ dan Shift-share. Analisis LQ dan Shift-share dapat menyajikan sektor-sektor apa saja yang unggul di Situbondo melalui perhitungan matematis. Analisis ini berdasar pada perbandingan PDRB Kabupaten Situbondo dan PDRB Regional, yang pada kasus ini PDRB Provinsi Jawa Timur.

 

lq

Tabel diatas menunjukkan hasil perhitungan LQ sektor-sektor di Situbondo terhadap Jawa Timur yang memiliki nilai LQ > 1. Nilai LQ > 1 artinya sektor tersebut memiliki kapasitas ekspor, paling tidak antar di daerah di Jawa Timur. Semakin besar nilai LQ maka kapasitas ekspor eksisting semakin besar, namun LQ > 1 sudah cukup untuk membuktikan bahwa sektor tersebut memiliki kapasitas ekspor.

Dari banyak sektor, ada dua belas sektor yang menunjukkan nilai LQ > 1. Yang paling tinggi adalah sektor Tanaman Perkebunan. Diindikasikan perkebunan di Situbondo adalah salah yang memiliki nilai startegis di Jawa Timur. Kemudian disusul sektor angkutan jalan raya. Sektor ini sangat besar nilai LQnya diindikasikan karena dalam SItubondo terdapat bagian jalan Pantura yang mana merupakan akses utama menuju Pulau Bali. Sektor unggul ketiga adalah Tanaman Bahan Makanan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat luasnya sawah di Situbondo. Yang keempat adalah sektor perikanan. Sudah diketahui oleh masyarakat umum bahwa perikanan di Situbondo memang memiliki keunggulan tertentu di banding daerah lain. Selain itu Situbondo memiliki garis pantai utara yang sangat panjang. Yang kelima adalah sektor angkutan laut. Diindikasikan hal ini menunjukkan peranan besar pelabuhan-pelabuhan d Situbondo untuk masyarakat Jawa Timur. Setelah itu disusul oleh banyak sektor-sektor lain.

Analisis LQ hanya menunjukkan keunggulan suatu sektor melalui kapasitas ekspornya saja. Analisis Shift-share melengkapi analisis untuk mencari potensi sektor unggulan dengan menyajikan seberapa baik kinerja sektor tersebut dibanding dengan kinerja sektor yang sama di Jawa Timur.

Shift share

Proportional Shift (Garis X) menunjukkan kinerja Sektor i di Provinsi Jawa Timur terhadap perkenomian Jawa Timur. Differential Shift (Garis Y) menunjukkan kinerja Sektor i di Kabupaten Situbondo terhadap kinerja sektor yang sama di Provinsi Jawa Timur. Saat proportional shift bernilai negatif artinya sektor i di Jawa Timur berkinerja kurang baik dalam rentang waktu tertentu dibanding kinerja perkenomian Jawa Timur secara umum, sebaliknya jika nilainya positif maka kinerjanya relatif baik. Saat differential shift dibandingkan dengan proportional shift, maka dapat dilihat sebaik apa kinerja sektor i di Kabupaten Situbondo terhadap perkonomian Jawa Timur dalam rentang waktu 2010 hingga 2013.

Dari lima sektor dengan nilai LQ teratas, dapat dilihat bahwa sektor Tanaman Perkebunan, Tanaman Bahan Makanan, dan Perikanan memiliki kinerja yang relatif baik. Hal ini terlihat dari proportional shift sektor-sektor ini bernilai negatif namun diimbangi dengan nilai differential shift yang baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa meskipun sektor Tanaman Perkebunan, Tanaman Bahan Makanan, dan Perikanan berkinerja kurang baik di Jawa Timur, namun sektor-sektor tersebut justru berkinerja leih baik di Situbondo yang artinya sektor sektor Tanaman Perkebunan, Tanaman Bahan Makanan, dan Perikanan memiliki keunggulan internal.

SITUBONDO DALAM SISTEM AGROPOLITAN IJEN

Mengetahui sektor-sektor apa saja yang unggul di Situbondo belum cukup menjadi dasar fokus pembangunan di Situbondo. Harus dianalisis juga posisi Kabupaten Situbondo dalam perencanaan pembangunan yang lebih besar. Dengan mensinergikan pembangunan lokal dengan pembanungan regional maka dampak positif yang dihasilkan jauh lebih besar. Sinergi pembangunan memungkinkan adanya sinergi penggunaan sumberdaya. Misalnya jika ternyata Kabupaten Situbondo memiliki keterbatasan pendanaan untuk membangun potensi unggul, mensinkronkan pembangunan Situbondo dengan pembangunan Jawa Timur memungkinkan adanya aliran dana dan sumberdaya lain dari pemerintah provinsi ke wilayah kabupaten, begitu pula sebaliknya.

Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur tahun 2011-2031 adalah manifestasi perencanaan pembangunan di Jawa Timur dalam penataan ruang. Dalam kebijakan ini telah dirumuskan berbagai rencana pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan di Jawa Timur, salah satunya dengan penentuan kawasan startegis provinsi. Salah satu kawasan startegis provinsi yang ditetapkan adalah Sistem Agropolitan Ijen dimana Kabupaten Situbondo termasuk di dalamnya.

Dalam Sistem Agropolitan Ijen, kabupaten situbondo di posisikan sebagai Penghasil/Pengumpul Bahan Baku untuk sektor Perkebunan dan Perikanan. Selain itu, ada kemungkinan pengembangan industri pengalengan ikan dan industri makanan berbahan ikan. Rencana ini bisa menjadi potensi bagi Situbondo untuk mensinergikan pembangunan dengan provinsi Jawa Timur.

KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa Tanaman Perkebunan dan Perikanan adalah sektor unggulan yang pembangunannya sinergis dengan rencana pembangunan Jawa Timur. Sektor ini tidak hanya dapat menjadi mesin perkembangan Kabupaten Situbondo, namun juga pengembangannya di dukung oleh pemerintah Jawa Timur. Sehingga sektor Tanaman Perkebunan dan Perikanan adalah fokus penting untuk pembangunan di Situbondo.

 

Saya sadari tulisan saya ini masih banyak kekurangan, terutama dari aspek validitas akademik. Namun teman-teman Jong Situbondo beranggapan bahwa jawaban dari suatu keraguan adalah melangkah. Dan semoga apa yang saya tuliskan adalah salah satu langkah untuk membangun Situbondo. Mens et Manus

Apakah Setiap Manusia Terlahir dengan Setan dalam Dirinya?

Saya bukan seorang ulama, bukan seorang santri, bukan seorang aktivis masjid, bahkan sampai sekarang saya masih sering lalai untuk sholat wajib yang lima. Sebagai seorang yang terlahir dan besar di keluarga muslim yang kemudian bersekolah di SD beroirentasi islam saya selalu diajarkan bahwa musuh manusia yang utama dan sebenarnya adalah setan. Dan saya yang masih kecil dengan imajinasinya bertanya-tanya dan membayangkan, setan itu seperti apa? bagaimana bentuknya? Pertanyaan ini telah lama tak terjawab dan si setan belum juga terbayangkan wujudnya. Dosa demi dosa telah saya perbuat. Penyesalan setelah kesenangan banyak saya rasakan. Saya kalah telak melawan setan. Bahkan di bulan Suci Ramadhan yang katanya semua setan di kekang(?). Dalam kekalahan pertanyaan itu mucul lagi, setan itu seperti apa? bagaimana bentuknya? Bagaimana saya bisa menang dari musuh jika bahkan saya tidak tau seperti apa musuh saya itu? Sampai akhirnya saya membaca suatu Hadist;

Diriwayatkan Imam Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu diceritakan :

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi Malaikat Jibril ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bermain dengan beberapa anak. Jibril kemudian menangkapnya, menelentangkannya, lalu Jibril membelah dada. Jibril mengeluarkan hatinya, dan mengeluarkan dari hati beliau segumpal darah beku sambil mengatakan “Ini adalah bagian setan darimu”. Jibril kemudian mencucinya dalam wadah yang terbuat dari emas dengan air zam-zam, lalu ditumpuk, kemudian dikembalikan ke tempatnya. Sementara teman-temannya menjumpai ibunya (maksudnya orang yang menyusuinya) dengan berlari-lari sembari mengatakan: “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh”. Kemudian mereka bersama-bersama menjumpainya, sedangkan dia dalam keadaan berubah rona kulitnya (pucat). Anas mengatakan: “Saya pernah diperlihatkan bekas jahitan di dadanya”.

Nabi Muhammad SAW pernah memiliki bagian setan dalam dirinya? Bahkan seorang Nabi Muhammad pernah memiliki bagian setan, yaitu bagian yang di laknat Allah, meski pada akhirnya atas kehendak Allah “bagian setan” itu dihapuskan? Jika teladan terbaik manusia saja pernah memiliki bagian setan dalam dirinya dan perlu mukjizat untuk menghapusnya, bagaimana dengan manusia biasa seperti saya?

Setelah membaca hadist tersebut saya menyimpulkan bahwa setiap manusia memiliki setan dalam dirinya. Bagian setan akan selalu ada dan mungkin hanya bisa hilang saat kita memasuki alam selanjutnya. Bagian setan tersebut seringkali menang dari bagian yang bukan setan. Sehingga musuh yang paling dekat adalah diri sendiri. Dan saat bagian itu sudah menang dalam diri sendiri, bagian itu bisa menjadi setan bagi manusia lain. Yang artinya manusia itu sendiri bisa jadi adalah setan.  Sebagian manusia adalah setan, diwaktu tertentu. Mungkin analisis dan kesimpulan saya ini ngaco dan tidak berdasar namun untuk sementara saya biarkan imajinasi saya seperti ini.

Sebagai penutup agar tidak terlalu tersesat, saya baca Surat An-Naas.

Al-Quran surat An-Naas

  1. Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,
  2. Raja manusia,
  3. Sembahan manusia,
  4. dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,
  5. yang mebisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
  6. dari (golongan) jin dan manusia.”

AMW

Sudah hampir 3 bulan sejak TOBA-PARA berdiri di kawah upas mengucapkan janji.

Dan saat ini sedang berproses untuk menjadi W sebenarnya, sebagai AMW.

Rutinitas kewajiban tak kalah sibuk dengan perkuliahan.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa mengikuti program AMW bersamaan dengan kuliah sama dengan mengambil double degree.

Mulai dari perjalanan ke gunung-hutan hingga beberes sekretariat.

W harus tetap riang gembira, dimana pun dan bagaimana pun kondisinya.

Namun masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab sejak hari pertama sayai di PDW,

“Apakah W cocok untukmu dan kamu cocok untuk W?”

Misalnya;

Saya adalah orang dengan cara berfikir makro.

Setiap fenomena yang terjadi saya kaitkan dengan hal-hal besar dan abstrak.

Namun operasi di W sangat mendetail.

Sangat bertolak belakang dengan cara berfikir saya!

Setiap punggungan yang saya jejaki terhitung.

Setiap puncakan yang daki terhitung.

Setiap sudut yang saya ikuti terhitung.

Setiap gram yang saya bawa terhitung.

Setiap detik yang saya gunakan terhitung.

Semua terencanakan hingga detail terakhir!

Banyak hal yang telah saya pelajari dari W dan masih banyak hal yang bisa saya eksplorasi.

Berkaca

Akhir-akhir ini saya merasa bahwa ada yang salah dengan cara hidup saya. Dan momen liburan dirumah membuat saya berani menyatakan sesuatu; KEHIDUPAN KULIAH SAYA BERANTAKAN! Tapi bukan karena saya terancam DO.

Saya pernah membaca sebuah kata bijak berbahasa inggris yang kira-kira berbunyi seperti ini; “Tanda bahwa kamu telah menjalani hari-hari terbaikmu adalah saat kamu bangun pagi dengan perasaan excited.” Dan saya sama sekali tidak merasakan itu! Ini bukan karena masalah saya malas bangun pagi atau kebiasaan saya yang susah dibangunkan, sama sekali beda kasus!

Saya pernah merasakan perasaan excited itu sebelumnya. Saat itu akhir kelas 10, masa ujian akhir kenaikan kelas. Saya mendapatkan suatu momentum (nanti cerita yang ini) yang membuat saya harus belajar untuk membuktikan saya bisa mendapatkan nilai kimia yang bagus. Singkat cerita akhirnya saya mencoba belajar dan saya berhasil mendapatkan nilai kimia yang bagus. Saat itu pertama kali saya merasakan manisnya mendapat nilai bagus atas usaha sendiri. Manisnya hal ini membuat saya menjadi enjoy -yang sebelumnya ngantuk- belajar KIMIA.

Di awal kelas 11 juga ada momentum penting. Di sekolah ada sebuah pengumuman lomba kimia yang diadakan sebuah universitas (yang saya lupa namanya). Karena banyak teman saya yang daftar akhirnya saya ikutan juga. Dalam pikiran saya lumayan juga bisa jalan-jalan ke kota lain. Sebelum pelaksanaan saya sempatkan untuk belajar ditengah kesibukan bermain meskipun kenyataanya saya buta sama sekali dengan lomba-lomba seperti ini. Hari pelaksanaan pun tiba. Dengan hati berdebar-debar saya buka lembar soal. Saya membaca soal pertama, soal kedua, lalu soal ketiga, dan . . . kampret, soal-soalnya susah banget! Belum pernah saya bertemu soal seperti ini, yang bahkan ada didalamnya ada beberapa istilah yang baru pertama kali saya dengar. Singkat cerita saya mengerjakan soal-soal yang bisa saya kerjakan saja, itupun menurut saya tidak banyak. Akhirnya waktu pengerjaan selesai. Dengan perasaan lempeng dan cuek saya meninggalkan ruangan. Banyak peserta cewek yang saya lihat curcol dengan teman-temannya tentang sulitnya soal-soal tadi sementara sebagian besar peserta cowok cuma diam saling memandang kemudian tertawa karena menyadari betapa bodohnya kami. Setelah menunggu lama sembari berjalan-jalan di Jember akhirnya hasil diumumkan. Dan secara mengejutkan saya termasuk salah satu dari sedikit yang lolos ke babak selanjutnya! APA!? Saya terkejut, teman-teman saya juga saya yakin terkejut, bahkan guru-guru kami, saya tau dari muka mereka kalau mereka juga tidak menduga saya lolos. Ucapan selamat akhirnya berdatangan dan perasaan sumringah dalam diri saya muncul. Disitu saya merasakan kembali manisnya belajar kimia. Meskipun pada akhirnya saya tidak berhasil menjadi juara di babak selanjutnya.

Di pertengahan kelas 11, ada pengumuman akan dibentuknya tim untuk persiapan Olimpiade Sains Nasional di sekolah saya. Saya tertarik untuk ikut tim persiapan bidang kimia dan entah untuk suatu alasan yang tidak jelas saya justru masuk tim persiapan fisika. Fisika? Padahal mapel ini adalah salah satu mimpi buruk saya saat itu. Meskipun saya sedikit ragu untuk ikut bimbingan, tapi masih ada sedikit motivasi yang tersisa; kali aja ikut bimbingan bisa meningkatkan pemahaman fisika saya dikelas. Singkat cerita akhirnya kegiatan bimbingan dimulai (artinya pelajaran tambahan untuk saya dihari libur). Dan kesan saya diawal masa bimbingan adalah; saya g ngerti sama sekali! Pembahasan di bimbingan jauh lebih sulit dan rumit dari yang ada dikelas. Diperparah dengan fakta bahwa pemahaman fisika dikelas saja buruk! Namun karena pernah merasakan manisnya belajar kimia dan haus akan hal itu, saya jadi tidak patah semangat. Disela-sela waktu senggang dikelas saya mulai mencoba membuka buku fisika, suatu momen langka! Kata demi kata saya baca, susah untuk saya pahami pada awalnya, tiga kali saya baca ulang, dan lama-lama konsep-konsep FISIKA (saat itu belajar mekanika Newton) menjadi masuk akal, EUREKA!!! Lalu saya coba kerjakan soal-soal fisika, dan saya ternyata bisa! Kembali saya merasakan manisnya belajar. Sampai pada akhirnya saya mulai mencoba mengerjakan soal-soal yang lebih rumit. Saya g bisa. Saya paham dengan konsepnya tapi tetap saja soal-soal yang rumit itu tidak bisa saya selesaikan. Dengan perasaan bingung, duduk merenung diatas motor sembari menunggu antrian keluar parkir, ditengah kebisingan suara knalpot saya menyadari apa yang salah, saya lemah di MATEMATIKA!!! Mapel ini adalah salah satu dari mapel dengan nilai yang paling buruk. Setelah itu saya mulai mencoba membuka buku matematika dan, hey . . . matematika ternyata tidak sulit! Layaknya bermain game, saat kau paham aturannya ditambah kreatifitas berfikir semuanya menjadi mudah. Dari situ saya menjadi sangat tertarik terhadap matematika, fisika, dan tentu saja kimia.

Ketertarikan saya terhadap matematika, fisika, dan kimia menjadi candu. Setiap hari diwaktu senggang saya membuka buku, mencoba memahami konsep-konsep baru, dan mengerjakan soal-soal yang lebih sulit. Dari situ saya menjadi paham adanya keterkaitan antara matematika, fisika, dan kimia. Karena itu saya menjadi suka kepada hal-hal yang berbau sains dan teknologi. Cerita-cerita sejarah tentang para peneliti dan inventor serta artikel-artikel penemuan ilmiah terbaru selalu mencuri perhatian saya. Saya selalu bangun pagi dengan perasan excited ke sekolah dengan harapan belajar hal-hal baru. Hingga pada suatu titik diakhir kelas 11, didalam lamunan saya bergumam; ternyata dunia sungguh menakjubkan! Setiap hal didunia selalu teratur mengikuti hukum-hukum alam tertentu yang saya pahami melalui matematika, fisika, dan kimia. Dari daun yang jatuh, gunung meletus, roda berputar, dan korek api yang terbakar, semua ini menakjubkan! Dunia ini berjalan dengan sangat rumit namun selalu ada harmoni didalamnya, dunia ini sempurna tanpa cacat! Hingga saya sampai pada kesimpulan; ternyata Tuhan benar-benar ada!

Hingga akhirnya masuk kelas 12. Saya merasa tekanan mulai meningkat di sekolah karena kami harus menghadapi UN. Namun tidak halnya dengan diri saya. Saya yang sedang dilanda kecanduan mafiki mencoba mengerjakan soal-soal UN tahun-tahun sebelumnya, dan saya sadari UN ternyata bukanlah masalah. Yang menjadi pikiran saya adalah bagaimana saya bisa lolos ke universitas karena ternyata soal seleksi universitas (SNMPTN-Tulis) jauh lebih sulit dari soal UN (Disitu saya tau perbedaan soal evaluasi dan soal seleksi). Saat itu saya menargetkan untuk masuk ITB karena ketertarikan saya terhadap sains dan teknologi dan katanya ITB adalah tempat terbaik di Indonesia untuk itu (akhirnya saya mendaftar di SBM dan SAPPK ITB dengan harapan belajar mengenai sains dan teknologi yang berkolaborasi dengan ilmu sosial). Dengan waktu menuju SNMPTN-Tulis yang sempit saya sadari saya harus mulai berpacu. Masuk ITB bukanlah hal mudah. Saya bangun jauh lebih pagi (sekitar jam 3 pagi) untuk belajar sebelum berangkat sekolah. Saat waktu senggang dikelas, saya mencoba belajar sendiri. Malam hari saya kembali belajar dirumah hingga pukul 8. Saya juga mendisiplinkan diri untuk tidak tidur lebih dari jam 9 malam, makan makanan berprotein tinggi, dan banyak minum air putih. Saya menjadi rajin sholat malam dan puasa sunnah senin-kamis. Sholat wajib tepat waktu, banyak-banyak membaca Al-qur’an, dan yang paling penting, meminta pada Tuhan sebagai pemiliki dunia, termasuk ITB didalamnya. Saya larut dalam cita-cita dan harapan. Mungkin itu romantisme terindah yang pernah saya alami dalam hidup. Dan Tuhan pun mengizinkan saya masuk ITB.

Dan disinilah saya sekarang dengan hidup yang berantakan. Tidak lagi bangun pagi dengan perasaan excited. Tidak lagi percaya bahwa dunia adalah tempat yang indah. Dan yang terburuk adalah tidak lagi memiliki keyakinan yang kuat bahwa Tuhan itu ada. Mungkin saya tidak terbiasa dan tidak nyaman dengan kehidupan kampus. Atau mungkin kehidupan dewasa menyediakan banyak hal menarik sehingga justru saya banyak melewatkan hal-hal penting? Atau mungkin karena saya tidak menemukan ilmu sains dan teknologi yang saya cari di kampus ini? Atau mungkin karena semuanya! Yang saya tau kehidupan saya sekarang full of shit. Yang saya tau saya sudah mengacaukan semuanya.

Saat ini orang-orang bertanya mengapa saya ikut PDW W*nadri padahal harus mengorbankan waktu kuliah dan hal-hal lain didalam kampus. Jawabannya adalah karena saya sedang bingung dan saya butuh perubahan radikal! Jika saya terus menerus hidup seperti ini saya yakin saya justru akan menyesal dikemudian hari. Dan saya tidak mau mati dalam kesia-siaan. Ini bukan karena organisasi. Ini juga bukan karena keahlian pendaki gunung. Ini karena PDW W*nadri setidaknya menjanjikan sentakan besar dalam hidup saya. Ibaratnya permainan catur, untuk membuka deadlock terkadang perlu mengorbankan bidak dengan harapan dapat membuka jalan menuju raja, meskipun penuh resiko. Mungkin orang akan bilang pilihan saya adalah pilihan bodoh. Dan mungkin beberapa orang merasa dirugikan dengan pilihan saya ini. Tapi saya tidak perlu berharap mereka akan mengerti. Jika mereka peduli terhadap saya, justru pilihan saya ini suatu saat dapat membuat mereka lega suatu saat. Semoga.

Kesimpulan; Saya sedang bingung dan saya butuh sentakan besar dan momentum baru dalam hidup! Saat ini! Yeaaah!

7 alasan mengapa pesimis pemilu 2014 dapat menjadikan Indonesia lebih baik.

Mayoritas masyarakat Indonesia sibuk memperdebatkan calon mereka yang terbaik. Namun mereka lupa bahwa pesta demokrasi kita berjalan tidak sehat. Saya semakin pesimis dengan hasil Pemilu 2014 mampu membawa Indonesia lebih baik, buktinya:

  1. Hujan “penghargaan dan pujian” dari tokoh, media, dan pemerintah asing. Masyarakat Indonesia sangat gemar sekali dengan hal ini. Contoh; saat Jokowi di puji Forbes atau saat Prabowo di unggulkan The Wall Street Journal jadi bahan konsumsi populer masyarakat Indonesia. Terbukti mayoritas masyarakat Indonesia mengidap INFERIORITY COMPLEX (Mendikbud mengakui hal ini). Semua opini yang berasal dari “negara maju” dan “ditulis bule” dianggap paling oke oleh masyarakat kita. Pemilihan pemimpin negeri sendiri kok ya opini dan intervensi asing masih saja ditelan. Padahal yang pemerintah dan media asing lakukan pasti untuk kepentingan bangsa (atau korporasi) masing-masing. Kata orang-orang bule “There ain’t no such thing as a free lunch”. Penghargan dan pujian mereka seharusnya menjadi kewaspadaan untuk masyarakat kita.
  2. Agama di eksploitasi untuk menggerakkan pemilih. Saya jujur bingung dengan apa yang dipikirkan oleh ulama dan kyiai yang terang-terang mendukung satu calon. Setelah menyuntikkan candu agama kepada umat yang sedang kebingungan, kyai atau ulama menggunakan candu tersebut untuk menggiring umatnya memilih calon tertentu. Kapan negara ini bisa tentram dan damai kalau isu agama masih saja di jadikan alat dalam politik yang menghormati keberagaman?
  3. Media-media mainstream lokal yang sudah jelas tidak netral. Media adalah pilar demokrasi. Tapi nyatanya perilaku media masa lokal bobrok. Sebut saja TVOne dan MetroTV, atau Tempo dan MNC. Terlihat jelas bahwa informasi dari mereka sudah tidak layak konsumsi. Kalau pilarnya saja bobrok gimana bangsa ini bisa berdiri?
  4. Kampanya-kampanye dan perdebatan yang tidak mencerdaskan (malah menyesatkan) pemilih. Masih saja kampanye hitam jadi bahan perbincangan utama bagi pemilih. Ini jadi PR besar buat pendidikan di Indonesia yang ternyata gagal mengajarkan logika pada mayoritas siswa dan mahasiswanya.
  5. Popularitas calon di medsos sangat berpengaruh terhadap preferensi pemilih. Padahal like dan followers bisa dengan mudah bertambah dengan tenknik yang tepat. Komentar dan tweet dukungan bisa di dapat dengan membayar sepasukan penggiat media sosial. Baik Jokowi dan Prabowo punya cukup modal untuk mendapatkan “dukungan” di media sosial. Sayangnya menurut riset dukungan di media sosial sangat berpengaruh pada pemilih di Indonesia.
  6. Elit-elitnya sulit atau tidak bisa dipercaya. Saya tidak perlu bercerita banyak tentang ini.
  7. Prinsip Vox Populi, Vox Dei (suara mayoritas adalah suara tuhan) masih menjadi prinsip bernegara.

Indra Sjafri

Masak negara dengan penduduk lebih dari 230 juta anak bangsa membentuk 11 orang untuk tim kuat saja tidak bisa?

Sebuah penyataan yang membuat saya tersadar dari cara pandang saya terhadap masyarakat selama ini. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Indra Sjahri, pelatih timnas U19 yang berhasil membawa Garuda Jaya menjuarai AFF 2013. Prestasinya membawa kebanggaan tak hanya pada pecinta bola Indonesia, namun juga kebanggan bahkan untuk saya yang biasanya tidak terlalu peduli dengan dunia sepak bola. Dan pernyataan diatas seakan membuka sudut pandang baru bagi saya. Bagaimana tidak, 230 juta jiwa adalah jumlah yang besar, dan mencari 11 orang bertalenta dari 230 juta jiwa adalah hal yang sangat mungkin, bahkan dengan akal sehat sederhana pun 11 orang itu sudah pasti ada. Lalu saya berfikir lebih jauh, apakah tidak mungkin diantara 230 juta jiwa ini ada seorang Mike Tyson baru? Apakah tidak mungkin ada pemuda seinovatif Michael Jackson, Bill Gates, atau Steve Jobs? Dan apakah tidak mungkin terlahir pemimpin-pemimpin besar sekelas George Washington, Vladimir Lenin, atau J.J Rousseau? Atau bahkan seorang Soekarno dan Hatta yang baru?

Indra Sjafri berkata, “Ada empat hal, skill, kemampuan taktikal, kemampuan fisik, dan mental. Boleh skill kita dibawah orang luar, tapi tiga yang lain kita tidak boleh kalah!” Dari keempat hal diatas yang menurut saya paling penting adalah mental. Selama lebih dari tiga abad kita di jajah, selama itu pula mental inferiority complex mulai tertanam di pikiran bawah sadar kita. Sederhananya, inferiority complex adalah perasaan kurang percaya diri masyarakat Indonesia terhadap bangsa lain yang mereka rasa lebih maju. Contoh, saat diketahui Barrack Obama pernah tinggal di Indonesia, masyarakat Indonesia langsung heboh. Hampir semua orang media menggembar-gemborkan dan masyarakat seakan bangga dengan hal tersebut, bahkan kita membuatkan sebuh patung (monumen) bagi si Barrack Obama. Ini adalah contoh nyata penyakit inferiority complex tertanam di Indonesia. Selain kasus Barrack Obama, ada pula kasus Indomie dan kasus film Fast Furious V. Sebuah hal yang membuat kita “seakan” mendapat pengakuan dari bangsa lain membuat kita bangga berlebihan, bahkan bangga yang tidak perlu. Contoh yang paling jelas adalah saat kita menganggap hal-hal yang berbau luar negeri adalah lebih lebih baik, mulai dari fashion, kuliner, film, musik, tempat wisata, tempat belanja, bahkan teknologi. Namun metode Indra Sjafri membawa Garuda Jaya menjadi juara memberikan suatu pencerahan baru bagi kita. Dia pergi blusukan berkeliling Indonesia untuk mencari talenta-talenta daerah yang sempat terlupakan, dia tidak mendukung penggunaan pemain naturalisasi, dan dia percaya diantara 230 juta orang Indnesi, aada 11 orang yang menjadi manifestasi bahwa bangsa ini mampu berdikari di dunia sepak bola!.

Sebuah prestasi dan inpirasi selalu dibuahkan oleh aksi yang inovatif sehingga terlihat berbeda dan membawa perubahan di lingkungan. Lalu apa yang membedakan kepelatihan Indra Sjafri dengan pelatih pada umumnya? Dalam wawancara dengan media masa, ketua PSSI Djohar Arifin memuji Indra Sjafri “Saya melihat Indra Sjafri punya metode yang bagus dalam melatih para pemain. Ada penggabungan sport science dan sport medicine dalam latihan yang dia gelar. Keduanya dipadukan untuk mendapatkan kesuksesan di Piala AFF dan kualifikasi Piala AFC U-19 kemarin. Dia adalah tipikal pelatih modern,“. Resep ini lah yang mejadikan kepelatihan Indra Sjafri berbeda. Ia menggunakan sains dan teknologi untuk berinovasi dan memberi perbedaan dalam pelatihan U19. Hal ini yang menurut saya masih belum membudaya di Indonesia. Pernyataan ketua PSSI ini mengindikasikan bahwa perpaduan sains dan teknologi dalam sepakbola jarang atau bahkan tak pernah dilakukan. Bahkan dalam diskusi-diskusi yang dilakukan oleh mahasiswa ITB masih banyak yang menggunakan asumsi dan common sense tanpa ada dasar pembuktian yang ilmiah. Namun dari prestasi Indra Sjafri kita melihat bukti nyata, bagaimana sains dan teknologi dapat membuat perbedaan. Dan teknologi tak hanya membawa perbedaan dalam hal teknis, namun sains dan teknologi mampu juga membawa inspirasi bagi seluruh bangsa. Merdeka!

NB: Sudah lama saya mau menuliskan ini dan malam ini saya baru bisa mengalahkan kemageran . . . :3

Such A Kind Of Bullshit

Kau tau apa? Adalah omong kosong saat kita berbicara kaderisasi. Adalah omong kosong saat kita berbicara untuk memberikan bekal dan nilai kepada calon-calon anggota. Adalah omong kosong saat kita bergumam, mereka harusnya begini mereka harusnya begitu. Dan kau tau apa yang paling membuatku takut? Adalah aku yang memegang amanah untuk melanjutkan fase “omong kosong” ini.

Kau tau, aku bergidik karena memegang amanah ini. Entah adalah setan atau justru diriku sendiri yang membisikkan keraguan. Aku tidak tau apakah aku sanggup, aku ragu! Aku merasa aku lah omong kosong. Aku bahkan merasa belum pantas untuk disebut pengkader. Sebenarnya, apa yang telah aku perbuat sehingga aku pantas disebut pengkader? Apa jasaku bagi kampus ini sehingga aku pantas untuk mengajari mana yang benar dan mana yang salah? Apa jasaku bagi bangsa ini  hingga aku pantas untuk mendidik generasi selanjutnya? TIDAK ADA!

Ya, meski aku masih berbalut malu akan kelalaianku selama lebih dua tahun di kampus Ganesha, mungkin ini kesempatanku. Meski dalam keraguan, aku yakin ini kesempatanku! Tuhan telah membuka kesempatan bagiku! Kesempatan untuk membuktikan ikrarku sebagai warga Pangriptaloka; Yang Kebenaran Adalah Tujuan, Yang Kesia-sian Adalah Pantangan, Yang Air Mata Negerinya Adalah Kegelisahan.

Mahasiswa Paket A

Semester baru artinya mata kuliah baru. Disana-sini teman-teman ramai memilih kuliah apa yang akan dijalani selama satu semester. Banyak pertimbangan yang dipikirkan saat memilih mata kuliah. Kriteria-kriteria yang paling umum dipertimbangkan adalah yang berhubungan dengan syarat kelulusan. Namun dari sekian banyak kriteria memilih mata kuliah, ada satu alasan yang umum diperbincangkan oleh teman-teman mahasiswa namun membuat saya terganggu, yaitu mereka memilih suatu mata kuliah karena kepastian untuk mendapat nilai A.

Kecondongan untuk memilih mata kuliah (atau Dosen) yang menjanjikan nilai bagus bagi saya adalah hal yang aneh. Jika saya berfikir positif, orang mengambil mata kuliah paket A dikarena IPK-nya memang sedang terancam, sehingga untuk menghindari hal yang tak diinginkan dia perlu memastikan bahwa dirinya mendapat nilai bagus. Namun fakta yang saya dapati ternyata juga banyak teman mahasiswa yang doyan mengambil mata kuliah paket A namun ternyata IPK-nya tidak bisa dikatakan buruk, katakanlah bahwa dia jauh dari ancaman DO. Terutama untuk mahasiswa level Institut Terbaik Bangsa. Fakta ini membuat saya berfikir, apa benar yang seharusnya dikejar di kuliah adalah nilai bagus belaka?

Kuliah tak hanya tentang nilai, bahkan kesempatan nilai A adalah faktor yang seharusnya bisa diabaikan. Kuliah seharusnya adalah tentang pengetahuan. Kita memilih kuliah karena kita tau ilmu yang  didapat di mata kuliah tersebut bisa bermanfaat nantinya. Buat apa kita menghabiskan waktu selama berjam-jam di kelas jika orientasinya bukan untuk menimba ilmu? Benarkah hanya dengan IPK bagus kita bisa hidup bermanfaat di masa depan? Apakah IPK satu-satunya indikator keberhasilan mahasiswa?

Definisi

Sedikit miris melihat beberapa mahasiswa yang bahkan mendifinisikan saja belum bisa. Padahal tanpa mendefinisikan terlebih dahulu, suatu kajian bisa kacau tak berarah. Orang mengatakan definisi menjadi batasan-batasan dan menjelaskan atribut utama hal yang sedang dibahas. Bagi saya, mendefinisikan merupakan kesepakatan awal akan hal-hal apa yang nantinya boleh terbawa dalam suatu bahasan atau kajian. Akan saya jelaskan dalam tulisan ini cara dan prinsip-prinsip mendefinisikan sesuatu, terutama mengacu pada buku Madilog-nya Tan Malaka. Dalam bukunya tersebut, Tan Malaka menyebutkan bahwa definisi adalah mark of the thing, refer to all things.

Yang terpenting dalam pendefinisian adalah definisi tersebut menyatakan essential attributes dari suatu hal. Essential attributes dapat diartikan sifat-sifat utama yang membedakan hal yang didefinisikan terhadap hal lain yang masih dalam satu kelompok. Cara mudah untuk mendefinisikan adalah :
1. Nyatakan hal yang akan didefinisikan kedalam kelompok yang lebih umum
2. Nyatakan perbeda antara hal yang didefinisikan dengan hal lain yang ada dalam kelompok umum tersebut
Misal, kita akan mendefinisikan manusia:
1. Manusia adalah hewan (Menyatakan bahwa manusia masuk dalam kelompok hewan)
2. Manusia memiliki akal (Menyatakan perbedaan manusia dengan hewan-hewan lain)
Sehingga definisi manusia adalah hewan yang memiliki akal.

Dalam definisi ada prinsip-prinsip yang harus ditaati agar definisi tersebut tidak membingungkan :
1. Definisi sebisa-bisanya singkat, tetapi jangan terlalu luas atau terlalu sempit. Meskipun diusahakan sesingkat-singkatnya, essential attributes tetap harus dinaytakan dalam definisi.
2. Definisi tidak boleh berputar-putar. Salah satu tanda bahwa definisi berputar-putar adalah mendefinisikan dengan sinonim katanya atau kata lain yan berarti mirip.
3. Definisi harus dalam bahasa yang umum. Maksutnya definisi tersebut sebisa mungkin dapat dimengerti segala lapisan masyarakat.
4. Definisi tidaak boleh memakai metafor, ibarat, kata figuratif, penggambaran. Intinya definisi harus lugas dan jelas.
5. Definisi tidak boleh dinyatakan dengan kalimat negatif.

Dalam dunia akademik, definisi adalah hal fundamental yang harus dibahas. Ketidaksepakatan definisi menyebabkan pembahasan menjadi kacau dan tidak memiliki ujung yang jelas. Maka dari itu pendefinisian menjadi hal yang harusnya setiap mahasiswa pahami.

Mandek Karya

Sebuah postingan di grup FB HMP membuat saya terhenyak, sedih, dan terutama malu. Postingan dari mantan Kahim HMP dari angkatan 2007 tersebut mengungkapkan fakta jika di PIMNAS tahun ini hanya 3 tim ITB yang lolos! Tentu fakta mengejutkan dan miris dari kampus yang katanya terbaik bangsa.  Dibandingkan dengan kampus-kampus besar lain, dan kampus-kampus yang belum besar, tentu jumlah “TIGA” adalah angka yang memalukan! Semandek itukah pengembangan karakter berinovasi di kampus Ganesha?

Saya sebagai kader himpunan, yang katanya merupakan basis kaderisasi di ITB, merasa sangat malu dengan kondisi ini. Sudah lebih dari dua tahun saya berstatus mahasiswa ITB dan lebih dari setahun saya berstatus massa himpunan namun hingga detik ini saya belum berhasil membuahkan karya-karya nyata untuk masyarakat! Saya menyadari bahwa kondisi ini berakar sistematik, namun saya merasa tidak pantas untuk menyalahkan sistem! Menjadi pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang, benarkah kehidupan mahasiswa yang saya jalani adalah kehidupan mahasiswa yang sebenar-benarnya? Benarkah seorang mahasiswa seperti saya pantas disebut sarjana dan intelektual suatu saat nanti?

Sebenarnya dalam hati selalu ada keraguan untuk berkarya, terutama saya selalu beralasan bahwa keilmuan saya belum lengkap, saya belum tau apa-apa, dan terutama jurusan saya bukan jurusan dengan produk fisik. Namun setelah saya renungkan sebenarnya ini hanya masalah keberanian! Saya ingat pesan seseorang, “anak muda harus berfikir sebelum bertindak, namun anak muda juga jangan terlalu banyak berfikir!”. Mungkin saya telah menjelma menjadi seorang anak muda yang merenta otaknya dengan pikiran yang penuh paradoks, yang mengakibatkan saya menjadi pemuda tanpa aksi. Mengenaskan!

Seorang lelaki tidak takut mengakui kesalahannya dan tidak ragu untuk merubahnya! Meskipun tidak lewat PIMNAS, atau tidak dalam lomba-lomba lain, namun karya untuk bangsa dan Islam tidak boleh mandek! Suatua kewajiban bagi saya sebagai putra Ganesha dan pemuda Islam untuk terus beraksi dan berkarya bagi masyarakat.

Do’akan saya kawan!

Warga Pangriptaloka…
Yang kebenaran adalah tujuan!
Yang kesia-siaan adalah pantangan!
Dan air mata negerinya adalah kegelisahan!