Mengunjungi Markas Dua Batalyon di Bandung

by muhammadelsena

Rasanya tidak menyesal saat saya ikut ajakan teman berkunjung ke markas militer. Pada awalnya saya malas, tapi akhirnya saya putuskan untuk ikut berangkat, karena ini kesempatan langka. Rombongan berangkta pukul 08.30 dengan menggunakan bus yang parkir di gerbang depan. Bus tersebut sangat luas, namun rombongan sangat sedikit. Mungkin pada awalnya acara ini dirancang untuk banyak peserta.

Tidak terlalu lama akhirnya rombongan tiba di markas pertama yang direncanakan untuk dikunjungi. Kami disambut oleh beberapa orang berseragam militer. Mereka terlihat gagah dan cara bicaranya tegas, namun mereka sangat ramah. Berbeda dari sosok tentara yang selama ini saya pikirkan. Setelah berjabat tangan dengan beberpa tentara, rombongan langsung diajak melihat-lihat alutsista yang dimiliki batalyon tersebut. Batalyon pertama yang kami kunjungi ini adalah batalyon kavalri untuk pertahanan udara ringan. Perbedaan batalyon kavalri dan infantri adalah batalyon kavalri merupakan alutsista yang di awaki, sedangkan infantri merupakan manusia yang dipersenjatai. Alutsista pertama yang di pertunjukkan adalah sebuah meriam untuk pertahanan udara buatan swedia. Perlu tujuh orang awak untuk mengoprasikan sebuah meriam ini. Meriam-meriam yang ada di markas ini sudah tergolong tua, namun masih dapat digunakan berkat perawatan intensif dari tentara-tentara di batalyon itu. Alutsista kedua yang di pertunjukkan adalah senjata mesin berat. Bahkan senjata ini butuh empat awak untuk dioprasikan. Alutsista selanjutnya yang di pertunjukkan adalah radar. Radar ini berukuran sangat besar. Sebesar sebuah truk berukuran sedang. Radar ini berfungsi mengetahui keberadaan pesawat musuh dari jarak yang sangat jauh. Radar ini juga dapat mengarahkan meriam secara otomatis untuk menembak pesawat musuh. Sama seperti halnya alutsista-alutsista sebelumnya, radar ini sudah sangat tua. Radar ini memang masih dapat berfungsi dengan baik, namun karena bagian-bagiannya sudah sangat tua, radar ini tidak dapat digunakan secara optimal. Untuk menggunakan radar ini butuh izin khusus yang memiliki prosedur panjang karena berhubungan dengan lalu lintas udara.

Setelah melihat-lihat alutsista, kami diajak ngobrol dengan Danyon di batalyon tersebut. Hal yang paling saya kagumi adalah pemaparan tentang kepemimpinan. Kepemimpinan yang di paparkan oleh sang Danyon adalah kepemimpinan yang sebenarnya. Tidak seotoriter yang saya pikirkan sebelumnya. Justru kepemimpinan sang Danyon ini adalah kepemimpinan yang saya anggap sangat mengayomi anggotanya. Bukan kepemimpinan yang main-main. Pelatihan tentara, meskipun pendidikan militer, adalah sangat terstruktur dan sangat mengayomi pihak terdidik. Berebeda dengan beberapa pendidikan yang sok militer namun berbahaya bagi anggotanya. Bahkan jika ada main pukul di pendidikan militer TNI, berarti telah direncanakan dengan matang dan dipastikan aman bagi pihak terdidik. Namun coba kita bandingan dengan kaderisasi sok militer yang ada di beberapa instansi non-militer. Justru sering timbul korban mental maupun fisik, bahkan kematian.

Kunjungan rombongan selanjutnya adalah batalyon kavalri tank. Seperti biasa, kami disambut dengan ramah oleh tentara disana. Kami juga disambut oleh Wakil Danyon. Di ruangan berkorden hijau, kami ngobrol dengan Wakil Danyon, Kapten, dan beberapa prajurit. Terkadang obrolan tersebut terasa seperti curcol tentang efek kenaikan BBM terhadap tentara. Tentara juga manusia biasa. Selanjutnya kami diperlihatkan beberapa senjata yang yang dimiliki batalyon tersebut. Seluruh senjata yang ditunjukkan merupakan buatan Pindad, buatan dalam negeri. Meskipun pada kenyataanya, desain awal senjata-senjata tersebut bukan buatan putra pertiwi. Selanjutnya rombongan diajak untuk melihat tank, apc, dan panser yang dimiliki batalyon tersebut. Kesan pertama yang saya tangkap adalah sangat tua. Tank-tank tersebut dirawat setiap hari oleh tentara, namun karena sudah terlalu tua, tank-tank tersebut gampang mogok. Mengenaskan memang. SSuku cadangnya juga sangat mahal dan sulit dicari, karena tergolong barang antik. Bagaimana negara ini dapat bertahan jika tank-tanknya sering mogok? Meskipun militer Indonesia merupakan defensif-aktif, tidak berarti masalah pertahanan negara mudah diabaikan begitu saja.

Hari berkunjung tersebut merupakan hari yang penuh dengan ilmu. Seringkali kami mendapat sindiran dari para tentara tentang peran kampus ganesha terhadap pertahanan-keamanan negara. Mereka mengaku akan sangat bangga jika alutsista yang mereka gunakan adalah seratus persen buatan anak negeri. Meskipun tidak secara langsung berkarya di Industri alutsista, sebagai calon pemimpin bangsa kita dapat memperjuangkannya. Tentara juga manusia biasa. Apa yang mereka rasakan mengenai kondisi Indonesia adalah sama dengan kebanyakan rakyat kecil lainnya. Seharusnya kita lebih banyak berinteraksi dan ngobrol dengan mereka untuk membangun pengertian dan berebagi ilmu.

About these ads